Calm ALIAS Kalem

Read, Follow, THANKSSSS!!!!!!!

Sabtu, 29 Mei 2010

Ballet (cerpen saya, just for fun)

Pada suatu hari, ada seorang wanita remaja berumur 15 tahun, yang bernama Cherryna Polland. Ia biasa disapa Cherry. Gadis indo, campuran Prancis, Sunda, dan German itu tidak mempunyai ibu, ia hanya mempunyai seorang ayah. Ibunya meninggal karena terkena penyakit aneh, saat Cherry berumur 3 bulan. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu dan belaian lembutnya, yang ia rasakan hanya kedisiplinan seorang ayah yang sangat mengutamakan pekerjaan. Ayahnya tidak pernah mengurusi Cherry dengan tangannya sendiri, ia menyewa jasa pembantu. Yang ayahnya pikirkan adalah, semua bisa terurus dengan baik dan lancar karena ada uang. Ayahnya pemilik sebuah hotel bintang enam, di Prancis.
Cherry sangat jarang bertemu dengan ayahnya. Mungkin setahun sekali ia bertemu ayahnya. Karena ayahnya sangat sibuk bekerja di luar negeri. Sampai-sampai terkadang ia lupa dengan wajah ayahnya sendiri. Ia pun tidak tahu, ibunya siapa. Karena itu, disekolahnya ia sangat pendiam. Ia jarang sekali berteman.
Ia sangat menyukai ballet. Cherry sudah memenangi beberapa kejuaraan lomba ballet, bahkan ia memenangkan olimpiade ballet se-dunia. Tetapi penghargaan-penghargaan itu tidak berguna baginya. Karena ayahnya tidak pernah peduli dengan prestasinya. Setiap pulang sekolah, waktu luangnya dia habiskan dengan berlatih menari ballet. Sehingga waktu belajarnya, terpakai untuk berlatih ballet. Saat ujian semester akhir untuk kenaikan kelas. Ia tidak sempat belajar. Hingga saat ujian itu, ia menjawabnya dengan asal-asalan.
Pada hari penerimaan raport siswa. Ayah Cherry, yang bernama Tomsam Polland. Tidak sempat mengambil raport anaknya sendiri. Sehingga pengambilan raport itu di wakili oleh pembantunya. Setelah itu, nilai raportnya dikirim dengan fax.
Setelah ayahnya melihat nilai raport anaknya. Ayah Cherry, marah dan mengamuk. Karena anaknya dinyatakan mendapatkan nilai terendah. Ayahnya langsung menuju ke Jakarta. Dan ia memarahi Cherry, serta langsung melarang Cherry berlatih menari ballet lagi.
Cherry marah, dan ia tidak setuju. Sehingga ia tidak sengaja membanta dan membentak ayahnya. Ayahnya bertambah marah, lalu ayahnya menyuruh Cherry pergi dari rumah. Cherry pun langsung pergi tanpa mengemasi barang-barangnya. Ia keluar rumah sambil berlari sangat kencang. Ia berlari menyebrangi jalan raya, ada sebuah truck pengangkut batu besar yang berjalan dengan cepat. Hanya dalam beberapa detik ia hampir kehilangan nyawanya. Tapi untungnya ada seorang laki-laki remaja yang segera menolongnya setelah tertabrak.
Saat ia tersadar, ia bingung mengapa ia ada disebuah rumah sakit. Yang pertama ia lihat adalah seorang lelaki remaja berambut hitam lebat, berbaju hitam, dan bercelana jeans. “Kamu siapa?” tanya Cherry. “Aku orang, yang tidak sengaja menyelamatkanmu.” Jawab pemuda misterius itu. “Nama kamu siapa?” tanya Cherry lagi. “Namaku . . .” pembicaraan mereka terpotong, karena ayah Cherry dan asistennya masuk keruangan. Lalu ayahnya langsung memeluk Cherry dan meminta maaf. Saat Cherry ingin mengenali ayahnya dengan pemuda misterius itu, tiba-tiba pemuda itu sudah tidak ada. Padahal Cherry benar-benar ingin berterima kasih, karena telah menyelamatkan nyawanya. Lalu seorang wanita berbaju putih, berkulit putih, dan berambut rapi masuk ke ruangan itu, seorang perawat yang cantik itu memanggil ayah Cherry untuk menemui dokter, “Bapak TomSam Polland, dokter ingin bertemu dengan anda.” Panggil suster itu.
“Benar anda, ayah dari pasien bernama Cherry?” tanya dokter.
“Ia benar. Bagaimana dengan anak saya dok?” tanya ayah Cherry.
“Begini, pak. Saya berharap, anda dapat menerimanya dengan ikhlas. Cherry anak bapak, tidak bisa berjalan lagi. Kakinya mengalami cacat, dan harus diamputasi. Jika tidak, kakinya akan membusuk dan kuman-kumannya akan menyebar keseluruh tubuh.” Jelas dokter
“Apa, dok?! Tidak mungkin. Anak saya penari balet!” elak ayah Cherry.
“Tapi, pak. Kita sudah tidak bisa, berbuat apa-apa lagi.”
“Bagaimana kalau kaki anak saya, disembuhkan. Terserah dengan cara apapun, dan semahal apapun, itu akan saya bayar! Disini katanya rumah sakit tercanggih dan termodern di Jakarta, kan! Harusnya kalian bisa dong mengatasi itu.”
“Saya tau, tapi di Indonesia bahkan di seluruh dunia ini, kalau kaki sudah mengalami cacat yang sangat berat seperti apa yang dialami Cherry tidak bisa disembuhkan. Tapi bapak sabar dulu. Saya masih punya cara, bagaimana kalau transplantasi kaki?”
“Transplantasi? Baiklah jika itu salah satu caranya. Tapi apakah dengan cara itu, anak saya bisa tetap menari ballet?”
“Sebenarnya jika ingin transplantasi kaki itu, tidak bisa bergerak dengan bebas atau menari ballet seperti yang bapak inginkan. Tapi hal itu bisa terjadi jika anak bapak terus berlatih. Tapi ada satu hal yang perlu bapak ingat, jika terlalu dipaksakan menari ballet dan berlatih terlalu keras, maka kaki anak bapak tidak bisa berfungsi lagi untuk selamanya.”
“Baiklah, pak. Saya akan mengingat itu.”
Lalu ayah Cherry, kembali masuk ruangan Cherry. Dengan wajah kecewa ayah Cherry berkata, “Cherry kaki kamu cacat dan harus diamputasi, tapi tenang kamu akan ditranspalantasi kaki. “Transplantasi kaki? Yasudah, aku akan melakukannya.” Jawab Cherry. Ayahnya mengingatkan Cherry akan satu hal yang sangat harus di ingat, “ Cher, kamu tidak boleh memaksakan menari ballet dan berlatih ballet terlalu keras! Karena jika itu terjadi kamu akan kehilangan kakimu untuk selama nya. Kamu mau?” “Tidak, yah! Aku tidak mau, kehilangan kakiku!” jawab Cherry tegas. “Kalau begitu, kamu harus berjanji pada ayah jangn memaksakan kehendak kamu. Janji?” tanya ayah. “Siap bos! Aku akan berjanji dan bersumpah. Saya Cherryna Polland, akan bersumpah tidak akan memaksakan berlatih ballet terlalu keras.” Janji Cherry.
Aku melihat kalender yang ada didepan mataku, hari ini adalah hari Selasa. Di atas kalender terdapat jam dinding, yang menunjukkan saat ini pukul 9.00 tepat. Tiba-tiba ada beberapa orang yang masuk ke ruangan dimana aku dirawat, lalu mereka membawaku ke tempat dimana operasi ku berlangsung. Setelah itu, aku tidak sadarkan diri.
Saat aku bangun, yang kulihat pertama adalah jam yang menunjukan sekarang pukul 17.16. Aku langsung terbangun dan ingin melaksanakan sholat dzuhur dan ashar. Saat kulihat kakiku yang terbuat dari besi, aku sangat kaget. Apabisa aku menari balet lagi? Itu yang selalu ada dipikiranku saat melaksanakan sholat. Lalu seusai sholat aku berdoa kepada Allah SWT, “ Ya Allah, izinkanlah menari ballet lagi. Aku akan terus berlatih ya ALLAH. Tapi jika ini takdir ku, tidak bisa menari ballet lagi. Aku akan menerimanya. Ya Allah kabulkan lah doa ku.” Cherry pun mengikuti therapy yang dianjurkan dokter setiap hari.
Kini ia sudah berjalan. Dan juga sekarang ia sudah bisa berlatih ballet. Beberapa bulan setelah kakinya sudah lumayan sembuh, ia malah berlatih ballet terlalu keras. Ia selalu terjatuh dan setelah terjatuh ia menangis, ia menyesal mengapa kakinya bisa begini. Ia terus berlatih hingga bolos sekolah, dan lupa makan. Ia mengunci aula yang berada di dalam rumahnya.
Setelah tiga hari, bibi yang menunggu Cherry di depan pintu khawatir. Karena sudah tidak terdengar suara dari dalam aula. Ia pun memanggil satpam untuk membukakan pintunya. Satpam itu mendobrak pintu itu. Alhasil, semua melihat Cherry yang tergeletak pingsan tak berdaya di lantai. Segera bibi menelepon ambulance, tidak lupa bibi menelepon ayah Cherry, “Tuan, nona Cherry pingsan karena terlalu capek berlatih ballet.” Ayah Cherry pun kaget sekaligus marah, “Bibi ini bagaimana sih?! Mengurus anak kecil yang masih SMA saja tidak bisa! Saya kan sudah bilang, awasi Cherry saat berlatih ballet! Dan juga peringatkan dia kapan ia berlatih ballet dan juga melakukan pekerjaan yang lebih berguna! Sekarang Cherry dimana? Segera telepon ambulance!” Bibi pun hanya bisa berkata, “Baik, pak. Memang saya salah. Saya tidak bisa mengurus nona Cherry. Tadi saya sudah menelepon ambulance, pak.”
Di rumah sakit.
“Bibi! Cherry dmn?!” bentak ayah Cherry.
“Nona Cherry ada di dalam, pak. Kata dokter Cherry tidak boleh di ganggu dulu. Karena kondisinya masih sangat lemah.” Jawab bibi imah lugu.
“Ooh begitu. Bi, sebenarnya bagaimana ceritanya Cherry bisa sampai begini?” Bibi pun menceritakan semuanya.
Dirumah sakit,
“Cherry, kamu tidak apa?!” tanya ayah.
“Cuma pusing dikit.” Jawab Cherry.
“Cherry, ayah mau bicara.” Perintah ayah.
“Ngomong apaan yah?” tanya Cherry.
“Sekarang atau nanti pokoknya seumur hidupmu, kamu tidak akan pernah dan bisa menari ballet lagi. Karena kaki mu sekarang cacat total, dan lumpuh!” jelas ayah.
“Apa yah! Aku tidak mau!”
“itu salah kamu semua! Kenapa kamu memaksakan menari ballet! Rasakan kamu! Senang kan, sudah tidak bisa menari ballet lagi?!”
“Enggak, yah! Aku enggak mau! Aku mau tetap menari ballet!” jawab Cherry, dengan meneteskan air mata yang berlinang di pipinya.
“Ayah tidak akan peduli! Kamu yang memulainya! Ayah sudah pernah peringatkan!” kata ayah, sambil keluar dan menutup pintu rumah sakit dengan kencang.
Cherry pun menangis tanpa henti. Di rumah sakit, selimutnya penuh dengan air mata. Ia tidak henti menangis. Cherry pun selesai di operasi, lalu di pulangkan kerumahnya. Sekarang kerjaannya hanya menangis dan menangis. Saat bangun tidur, di sekolah, pulang sekolah, di rumah, dan sedang istirahat. Ia selalu menangis. Jika waktu libur atau sepulang sekolah, ia selalu melihat jendela sambil menangis. Ia menangis di atas kursi roda.
Sampai pada suatu saat. Air matanya habis, ia tidak bisa menangis lagi. Matanya pun kering, tidak ada air mata. Tetapi ayah nya tidak tahu dan peduli. Menurut ayahnya semua itu adalah salah Cherry. Karena sudah tidak bisa menangis lagi, sekarang ia sering melamun. Ia melamun sambil menatap tanpa arah.
Ternyata karena sudah tidak bisa menari ballet lagi, Cherry mengalami gangguan jiwa. Ia tertawa, menangis, melamun, bernyanyi dilakukan berbarengan hanya dalam 30 detik. Ia dinyatakan gila oleh salah satu dokter pribadi ayahnya.
Ayahnya tidak percaya, sekaligus kaget. Karena tidak percaya, dokter pribadi nya dipecat dan dilaporkan ke polisi.
Tetapi melihat kelakukan anaknya, ayah pun baru sadar bahwa Cherry benar-benar terkena gangguan jiwa. Ayahnya pun menyesal, dan memasukkan Cherry ke rumah sakit jiwa. Tetapi Cherry tidak mau.
Cherry menolak di masukkan ke rumah sakit oleh ayahnya. Ia memukul wajah ayahnya. Ayahnya pun marah, emosinya memuncak. Tanpa segan-segan ia langsung memasukkan Cherry ke rumah sakit jiwa, dan tidak pernah dijenguk sekalipun. Cherry seperti di buang.
Karena menyadari hal itu, Cherry pun berniat membunuh ayahnya. Ia diam-diam menyelinap keluar, agar bisa pulang ke rumahnya, dan melakukan hal itu. Tetapi rencananya tidak berhasil, ia ketauan oleh satpam rumah sakit.
Rencana tidak berhasil, membuat semakin tertekan. Dan dia diam-diam menyelinap ke dapur. Dan ia mengambil pisau, dan membawanya ke kamar. Sesampai di kamar, ia mengunci pintu. Lalu memegang pisau dan mengarahkan ke urat nadi di tangannya. Dalam sekejap, ia kehilangan tangannya. Dan karena darahnya yang mengucur terlalu banyak, membuat nya pendarahan dan kehilangan banyak darah. Karena kekurangan darah ia pun, kehilangan nyawanya. Di akhir hidupnya ia berkata “Maafkan aku ayah ibu, aku tidak bisa menjadi anak yang berguna.”
Saat waktu makan siang, seorang suster mengantarkan makanan ke kamar Cherry. Tetapi pintunya di kunci. Suster itu pun menyuruh satpam mendobrak pintu. Semua pun terkaget melihat kondisi Cherry yang sudah tak bernyawa lagi. Mereka langsung membawa jenazah Cherry ke rumah sakit terdekat, dan menelepon ayah Cherry. Ayah Cherry pun tidak percaya.
Ayah Cherry pun segera, menaiki mobil dengan cepat. Dan di perempatan jalan ia menerobos lampu merah. Lalu, seorang polisi melihatnya dan mengejar ayah Cherry. Tetapi ayah Cherry tidak peduli, dan ia menambah kecepatan. Tetapi tiba-tiba ada sebuah truck besar yang hampir menabrak mobil ayah, lalu ayah Cherry membanting stir mobil ke kiri, dan masuk ke jurang. Ternyata ayah Cherry tidak bisa diselamatkan, dan meninggal.
Tamat

Karya : Giannissah Fathina Fairuz

Pick Me- Justin Bieber

 justin bieber-pick me.mp3
Found at bee mp3 search engine